materi kuliah

Tren Dakwah Kontemporer

  • Oleh Abu Rokhmad

BELAKANGAN ini performan dakwah Islam mengalami perubahan. Tidak hanya dainya yang keren, modis dan atraktif, tetapi juga media dan metodenya yang makin canggih dan beraneka ragam. Terkesan dakwah Islam tidak mau ketinggalan dengan kemajuan teknologi yang ada dan memang seharusnya demikian.

Teknologi bagaimanapun bentuknya, tentulah tidak hanya memudahkan orang untuk berbuat maksiat. Pada saat yang sama, kesempatan menjadi baik dan mau berbuat baik begitu luas terbuka karena efek dari teknologi juga.

Jargon al-islam salih li kulli zaman wa makan, tampak menjadi inspirator bagi umatnya untuk menampilkan dakwah Islam sesuai dengan tren zamannya. Berdakwah kepada eksekutif atau artis tentulah harus berbeda dengan berdakwah kepada petani dan nelayan. Meski metodanya ceramah, tetapi aksentuasi, bobot, substansi, gaya dan penampilan dikemas sedemikian rupa hingga sang dai sebisa mungkin tidak “beda amat” atau “amat beda” dengan audiensnya.

Metode atau cara dakwah para dai kondang seperti A’a Gy, Jefri al-Jufri, Arifin Ilham, Yusuf Mansur, Haryono atau ustadz-ustadz ruqyah lainnya boleh dikata belum ada presendennya dalam sejarah dakwah Islam. Tampilan mereka yang menarik, luwes, melek teknologi dan perubahan zaman sangat menyentuh dan membuat penasaran audiens.

Dunia dai tak lagi kumuh, namun makin bersih dan mewah. Kombinasi antara dakwah dan art diramu sedemikian rupa hingga figur dai tak ubahnya seperti artis.

Dakwah Islam yang genuine itu, di satu sisi sangat membuat penasaran Ara audiens dan itu patut diapresiasi dan ditiru oleh komunitas dai pada umumnya.

Magnetnya luar biasa dan peluang untuk merangkul begitu banyak jamaah sangat mudah dilakukan. Bila demikian, inilah momentum yang efektif untuk mengajak (dakwah) mereka kembali kepada Islam, amar ma’ruf dan nahi munkar.

Di sisi lain gejala di atas juga menggelisahkan tidak hanya bagi sesama dai yang umumnya tidak berkelas dan kuno, tetapi juga bagi kalangan awam pada umumnya. Mengapa ikut pengajian sekarang menjadi mahal, dengan syarat-syarat yang aneh (harus pakai baju putih misalnya) clan terkesan tidak ada sangkut pautnya dengan dakwahnya sendiri, segmented dan tidak egaliter?

Aneh tapi Nyata

Di sebuah surat kabar terpampang iklan “dakwah” yang menggelitik, antara lain: pelatihan shalat khusyuk, pelatihan tasawuf, pelatihan manajemen qolbu dan sejenisnya. Sentuhan dan kemasan ilmu dan art (untuk tidak menyebut intertainment) yang mengitari substansi dakwah yang akan disampaikan, menyebabkan para peminat harus mengeluarkan sejumlah dana agar dapat mengikuti “pengajian” tersebut.

Ilmunya berasal dari wahyu, hadis, hingga kitab-kitab klasik yang disusun oleh cendekiawan muslim abad pertengahan. Art-nya diramu dari berbagai kecenderungan dunia yang umumnya mengarah pada penggunaan teknologi informasi dan nuansa hiburan (intertainment). Apa pun materinya, asal disampaikan secara menarik dan menghibur pasti disukai oleh audiens.

Kalau mau jujur, para dai yang mengembangkan model pengajian dengan judul pelatihan itu, tidak pernah bersusah payah membangun teori tentang manajemen hati, shalat khusyuk atau tasawauf.

Sebagian besar konsep dan basis teoritik pelatihannya “bajakan” dari Alquran, hadis, atau pemikiran tokoh sekelas al-Ghazali misalnya. Dalam bayangan saya, al-Ghazali misalnya, tentulah akan menerima royalti yang tak terhitung jumlahnya, baik royalti amal saleh maupun royalty uang, dari para dai yang telah menjual teorinya tanpa izin.

Menurut ulama zaman dulu, satu-satunya dakwah yang diperkenankan (maaf) meminta bayaran adalah mengajar baca-tulis Alquran. Guru ngaji atau siapa saja yang telah mengenalkan huruf alif ba’ kepada kita, merekalah yang paling berhak dihargai sebagaimana mestinya. Ironisnya, tidak sedikit dai-dai yang kurang teteh baca Alquran tetapi dihargai layaknya pemain sinetron, hanya karena mereka lebih cerdas dalam hal acting dan strategi marketing.

Hari ini memang eranya budaya pop. Yang dibutuhkan juga dai yang nge- pop. Hal yang paling dekat dengan dunia pop adalah hiburan. Hiburan yang dikemas dengan agama sekalipun tetaplah hiburan, lebih mementingkan luarnya ketimbang isinya.

Banyak jamaah yang berduyun-duyun mendatangi pengajian, semata-mata bukan karena track record dainya yang dikenal luas ilmu agamanya, tapi tidak sedikit yang penasaran karena seringnya dai tersebut tampil di TV. Ada juga yang penasarannya betapa indahnya bisa menangis di bawah sorotan lampu kamera.

Dakwah atau Dagang?

Seorang kawan yang tergolong kelas ekonomi lemah bertanya: “Ustadz, saya ingin dapat shalat khusyuk, tapi kok mahal biayanya.” Singkat kata, ia bercerita bahwa kantor di mana ia bekerja didatangi “dai-sales” yang menawarkan paket shalat khusyuk plus menginap di hotel berbintang dengan biaya se juta-an lebih. Oleh karena sang bos kantor tidak sanggup mengatasi seluruh biaya pelatihan dari karyawannya, maka diusulkan kepada karyawannya bagaimana kalau fifty-fifty.

Seorang teman yang dai berteori bahwa dunia dakwah dengan dunia dagang layaknya sekeping mata uang. Begitu dekat dan tak bisa dipisah. Orang yang bisa dakwah tapi tak bisa berdagang, dijamin hidupnya mewakili para dai dan kiai desa yang mengandalkan amal saleh jama’ahnya dan pahala surga. Keikhlasan dan keteladan hidupnya menjadi penyejuk hati bagi jamaahnya yang rata-rata orang bersahaja. Mereka kharismatik, namanya harum dikenang bukan karena tarifnya yang mahal dan birokratis bila diminta mengisi pengajian, tetapi lebih karena keikhlasannya berdakwah dan mungkin tak berniat berdakwah untuk dagang.

Tetapi bagi dai yang pandai berdagang, atau berdakwah sambil berdagang, mereka memiliki kehidupan cukup layak dan populer. Mereka tak harus bersusah payah memikirkan dapur keluarganya karena “mesin ekonominya” sudah bekerja atomatis. Dai seperti ini tak ada salahnya. Seharusnya malah menjadi cermin bagi dai lainnya, karena bagaimanapun aktivitas dakwah akan makin lancar bila sang dai terlepas dari persoalan ekonomi keluarganya. Sayangnya dai semacam ini umumnya terkena hukum pasar. Bila supply dan demandtak sebanding, sewaktu- waktu “harga” akan jatuh karena sepi tanggapan. Tetapi jangan khawatir, dai hukum pasar seperti ini akan cepat berganti bila hilang dari pasaran.

Satu dai meredup, akan lahir dai-dai lain yang tidak kalah menarik. Soal keahlian agama dan kedekatannya pada Tuhan, itu off the record sifatnya.

Dai tetaplah manusia biasa yang ingin hidup nyaman. Mereka bukan malaikat yang tidak ingin punya mobil mewah atau rumah mentereng. Kecerdasan mereka untuk mengolah konsep dan teori menjadi uang tentulah patut diapresiasi.

Namun kalau semua pengajian yang diberi judul pelatihan membutuhkan begitu besar biaya untuk bisa mengikutinya, tentu akan sangat memberatkan kaum muslim yang pas-pasan. Gerusan materialisme dalam dakwah seyogyanya bisa diperkecil agar tidak ada kesan terjadi komoditisasi agama. (11)

— Abu Rokhmad, dosen di IAIN Walisongo Semarang

Satu Tanggapan

  1. sudah baik. mohon lebih diperbanyak materi perekonomian dan manajemen islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: